Senin, 14 Juli 2014

Saya dan Absurdnya Bank

Masyarakat urban zaman ini pasti punya lebih dari satu nomor rekening. Padahal mereka tahu makin hari buat rekening ribetnya makin menjadi.

Yang paling baru dan absurd menurut saya kenyataan untuk perseorangan sekarang kalau mau buka rekening baru harus punya telepon rumah (fixed phone). Sementara sekarang orang pakai ponsel, telepon genggam (handphone).

Jadilah orang kampung semacam saya yang tidak punya telepon rumah kelimpungan untuk sekadar mau menabung. Ya harus ditanya nomor kantor, nomor saudara, pokoknya kalau saya mau buka rekening harus ada telepon rumah.

Maka jadilah saya akal-akalan, yah ga akal-akalan juga sih, saya harus pinjam nomor telepon kawan yang saya hapal sejak kecil.

Padahal sayakan bukan lembaga survei yang memalsukan alamat apalagi nomor telepon untuk menggiring masyarakat bahwa capres yang menang si J atau si P. Apalagi saya ga mungkinlah yah, mau transfer uang buat beli bahan bom cuma karena pas saya buka rekening saya pake sorban untuk kerudung saya.

Tapi bukankah ini Indonesia, kalau bisa absurd kenapa harus normal?

Keabsurdan lain adalah perkara nama ibu kandung. Zaman sekarang, saat privasi hampir takada lagi, bukankah nama ibu adalah perkara mudah untuk diketahui.

Misalnya saja, seorang kawan di laman Facebooknya menulis nama seluruh keluarganya. Jadi buat apalagi sih nama ibu kandung ini?

Keribetan lain pemilik nomor rekening bisa punya aplikasi melalui layanan pesan singkat hingga internet tapiiiiii, pas ada masalah ujung-ujungnya harus balik ke bank tempat anda buka nomor rekening.

Okelah kalau semua keribetan ini berbanding lurus dengan keamanan dan pelayanan. Pada kenyataannya ada bank-bank yang bahkan sepi mbak telernya masih jutek aja. ATM tidak sering rusak atau masalah-masalah lainnya yang absurdnya kayak para pejabat negara ini.

Tapi toh pada kenyataannya menabung si bank adalah modern, padahal bukan untung yang saya dapet yang ada malah potongan. Apalah arti manusia zaman ini tanpa kartu yang bisa mereka gesek?

Jumat, 04 Juli 2014

Seminggu Menerjang Jakarta Jilid II

Jadi Juli ini saya memutuskan berpindah. Lebih tepatnya saat saya tepat 26 tahun saya melepaskan status saya sebagai karyawan kantor berita negara ini.

Keputusan yang besar mengingat 2,5 tahun saya menerjang Jakarta dengan status itu. Keputusan yang berat karena banyak yang beranggapan bahwa di sana sudah cukup baik. Keputusan yang berat karena cukup banyak yang harus diyakinkan bahwa ada hal-hal yanh masih harus saya cari di luar sana. 

Lalu tepat 1 Juli 2014 saya berpindah.

Hari ini tepat sepekan saya menerjang Jakarta sebagai karyawan di tempat lain. Percayalah bahwa memulai sesuatu yang baru di tempat yang baru selalu tidak mudah.

Dulu kawan-kawan baru yang bilang, "serem gw kenalan sama lo, jutek!" Hari-hari ini saya merasa semua orang jutek. Ya, betapa dunia dan Tuhan selalu adil.

Namun, saya sungguh menikmati hal baru ini. Saya sempat bilang pada seorang kawan, "saya merasa terlalu tua untuk memulai di tempat yang baru."

Sepekan ini adalah hari-hari saya menyesuaikan diri. Menyesuaikan diri bahwa yeahhhh saya bisa bangun siang dan bisa sampai rumah lebih cepat dari biasanya sekaligus.

Bahwa ada orang-orang baru yang harus saya mulai hapal namanya juga wajahnya. 

Ada tugas-tugas baru yang tampak lebih santai tapi membuat saya lebih lelah dari sebelumnya.

Kini jarak bahkan memanjang. Kalau dulu saya sudah merasa "Jakarta banget" dengan kopaja menuju Kebon Sirih. Maka kini, saya harus transit kereta ke Jantung Jakarta yang ternyata lebih semrawut dari biasanya. 

Banyak hal baru di depan sana. Mungkin akan banyak kesedihan, kebahagian, risiko, intrik dan hal-hal baru lainnya. 

Yang baru mungkin tidak lebih baik, tapi bukankah mengambil risiko untuk sekadar tahu lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali?

NB: Hari ini jadi sepekan karena kini Sabtu-Minggu saya pasti hari libur ^_^