"satu-satunya yang paling berharga dalam hidup adalah ketidakpastian dalam hidup (Kenko, Essays on Idleness)."
Senin, 30 Desember 2013
Saat Hujan di Jakarta Jadi Begitu Menarik
Rabu, 06 November 2013
Di dalam Gerbong
Kamu menoleh dan yang terpantul masih hanya wajah pucat itu.
Kaca-kaca itu gelap, seperti malam tanpa bintang, seperti espresso yang kau tenggak tanpa sisa. Kamulah satu-satunya penumpang tersisa, kamu menjadi penumpang terakhir. Akan tetapi, hatimu sudah lama tidak bersamamu di kereta.
Kakimu melangkah, ia sudah tahu meski tidak lagi perlu kamu perintahkan.
Dulu kamu selalu menanti saat di kereta, kamu membayangkan "Serendipity" bahwa tanpa kata kalian akan di gerbong yang sama. Namun kini kereta adalah neraka saat kamu tahu bahwa kalian tidak perlu lagi menerka.
Hatimu nelangsa, tapi takpernah kamu ucapkan. Matamu merah namun kamu berusaha agar tidak basah.
***
Matahari bewarna Barbie, desak-desakan itu membahagiakanmu. Takada kata hanya pandangan mata. Tidak satu sentuhan pun di antara kalian hingga stasiun terakhir tapi hatimu tidak bisa lebih berbahagia.
Obrolan itu meluncur tanpa kata. Kamu selalu senang saat tatapan kalian beradu. Ketika di bola matanya hanya wajahmu.
Awalnya hanya saat berangkat, detik-detik berikutnya kalian mencoba mencocokan waktu meski tanpa janji.
Hari itu stasiun penuh dengan manusia, kamu berduka. Harimu buruk dan kamu tahu betapa brengseknya Jakarta. Kamu tidak akan dapat tempat duduk. Kamu bermuram durja.
Tiba-tiba saja kamu sudah dialiri kehangatan, kamu taklagi bisa berbohong. Hatimu melonjak, kamu tahu bahwa sentuhannya yang setitik membuat awan gelap itu mulai hilang.
Ia tidak mengucapkan kata "kenapa" ia tidak berucap mesra. Ia hanya memberi sentuhan tepat di ubun-ubun kepala dan sebotol air putih.
Kamu ingin melonjak, membawanya ke warung kopi favoritmu, di sofa empuk dan lampu redup. Namun, kamu ingat bahwa dunia kalian hanya ada di dalam gerbong.
Kehadirannya membuatmu gila. Membuatmu ingin kereta mogok dan waktu berhenti di dalam gerbong. Kamu ingin ia selalu menjagamu di antara rem kereta yang tiba-tiba.
Hari ini kamu berbahagia. Kamu ingin berbagi dengannya. Kamu berdoa dalam hati, "smoga di gerbong ini ada wajahmu."
"Sudimara," suara itu meraung dan detak jantungmu selalu lebih cepat saat mendengarnya.
Tapi kamu kecewa. Tidak kamu temukan wajahnya padahal kamu menyiapkan sekotak susu ultra untuknya. Kamu bertanya-tanya namun takut menerka.
"Tanah Abang," harapanmu di dalam gerbong habis saat keretamu menepi di jantung kota. Kamu melangkah sambil menggenggam susu untuknya.
Jantungmu hampir copot saat ada yang ingin merebutnya. Ternyata itu dia, matanya sisa segaris karena senyum tulus seperti biasa. Rambutnya berantakan tidak seperti biasa.
Kamu takut. Kamu sadar betul segalanya hanya soal waktu. Saat matanya meredup. Saat di matanya tidak lagi ada wajahmu. Akan tetapi, kamu juga sadar. Sakit hati bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari, dilatih, pun dipersiapkan.
Saat hari itu tiba.
Matanya redup saat matamu penuh cahaya. Ia tidak terlihat seperti biasanya. Kamu melihatnya seperti melihat melihat seseorang tanpa satu kebahagiaan pun tersisa.
Kamu ingin memeluknya. Memegang puncak kepalanya seperti yang biasa ia lakukan.
Ia menepisnya tanpa kata.
Hari itu kamu tahu segalanya akan berakhir. Hari saat matahari kembali terik. Saat penuhnya kereta kembali menyakiti tiap jengkal tubuhmu. Kamu ingin menangis sejadi-jadinya. Menahannya untuk tidak meninggalkamu.
Kamu tahu kamu tidak perdaya.
Kalian tidak pernah memulai dengan kata.
Hari itu ia menggenggam tanganmu, bukan sekadar sentuhan.
Hari itu ia memintamu duduk di sebelahnya menghadap matahari. Kamu menurutinya.
Matahari sudah jauh. Malam pekat telah datang. Kamu sudah bisa lihat lampu-lampu Jakarta menyala terang. Dan suara klakson di kejauhan.
Kalian menaiki kereta terakhir. Ia memintamu duduk sementara ia berdiri. Ia berdiri di depanmu.
Seperti biasa ia akan turun lebih dulu. Kamu ingin menahannya.
"Sudimara," suara pengeras suara terdengar seperti lengkingan yang menyesakkan.
Ia menjauh. Pintu tertutup. Kamu membayangkan dirimu menekan rem mendadak seperti dalam film-film dan menghentikannya, menahannya untuk pergi dan beradu bibir hingga perih.
Sayangnya, kamu hanya terduduk tanpa ingin bangun lagi.
"Serpong."
Kamu sampai, tatapanmu kosong. Kamu tahu kamu selalu terpisah sekaligus menyatu dengan Jakarta. Seperti dunia yang pernah kalian punya yang hanya mengantarkan pasa tujuan.
***
Kamu tahu yang membuatmu pucat adalah kamu melihatnya, menggenggm tangan perempuan lain. Kamu tahu yang membuat malam begitu pekat adalah matanya yang segaris bukan untukmu.
Kalian tidak pernah memulainya dengn kata. Ia tidak mengucapka cinta. Mata kalian beradu dan kamu tahu ini hanya di dalam gerbong.
Tanah Abang - Serpong
7-8 November 2013
Rabu, 30 Oktober 2013
Dua Tahun Menerjang Jakarta
Ini Oktober ketiga
Tidak pernah terbayangkan bahwa akan menerjang Jakarta selama ini. Menelurusi nadinya sedalam ini dan yang terparah adalah tenggelam sejauh ini.
Dua tahun Jakarta saya lalui dan di akhir dua tahun menerjangmu (akhirnya) saya bukan hanya menetap di ruang kotak.
Menemukan hal baru ternyata masih selalu lebih menyenangkan dan betapa saya masih ingin (jika mampu) tidak hanya menetap di sini.
Kota ini selalu mengajak terburu-buru, mengajak melangkah dengan cepat, sayangnya saya masih mau jalan perlahan, tidak buru-buru dan menikmati tiap langkah saya.
Di kota ini untuk itu saya harus menunggu hingga jauh malam dan masih mendengar deru kendaraan. Ternyata saya selalu masih rindu wangi tanah basah lebih dari apa pun.
Dua tahun menerjang Jakarta saya makin sadar betapa saya peragu di antara segala yang harus cepat, ada yang muak karena itu, tetapi mengapa saya harus peduli saat kebahagiaan saya yang bukan berasal dari segala yang sumbing.
Saya memilih bahagia walaupun menjadi pragmatis menjadi hal sulit karena "so-sial" adalah bagian yang dulu takterpisahkan.
Saya merindukan suaka untuk lari, sayangnya sekarang segala tenggat mengejar tanpa kenal waktu dan suaka hanya pelarian yang bahkan tidak mampu mengeringkan air mata.
Namun kebahagiaan ada di tiap sudut
Jakarta masih menyisakan banyak orang baik di antara segala kemuraman hari. Pendar lampu di antara hujan selalu jadi hal yang romantis. Ya, saya jatuh hati pada lampu yang disiram hujan di Jakarta sembari membayangkan saya berada di Paris.
Gedung-gedung sepanjang jalan Thamrin selalu mengingatkan saya pada cerpen "Seribu Kunang-Kunang di Manhattan". Seandai Umar Khayam masih hidup mungkin dia akan melihat Jakarta yang bermimpi jadi Amerika, seperti saya yang bermimpi melihat kunang-kunang di kota ini.
Jakarta masih memberi sedikit sekat pada jingganya senja yang kadang masih bisa ditunggu, seperti Sukab akan selalu mencuri senja bagi Alina.
Jakarta masih punya keramahamnya meski tidak banyak dan saya berusaha keras untuk menemukannya untuk sekadar bertahan.
Ya saya mulai jatuh cinta pada Jakarta, tapi saya masih bermimpi hanya mau menjadikannya tempat singgah.
Saya masih selalu lebih suka angin basah dan deru ombak. Biru yang tidak berujung masih lebih memikat saya dari sengat terik di tengah hari.
Saya iri pada Seno Gumira yang masih mampu meramu kata indah untuk Alina di antara macetnya kota.
Saya benci lebih banyak memilih tidur dan membuka ponsel daripada membaca buku dan merangkai kata indah untuk diri sendiri. Saya rindu duduk menatap kegiatan orang lain sambil menertawakan diri sendiri meski diri sendiri kini adalah lelucon terbesar yang patut ditertawakan.
Menciptakan kebahagiaan
Manusia berkembang dan mimpi pun berkembang. Maka saya menciptakan kebahagiaan di antara cangkir kopi dan obrolan hangat bersama yang terkasih. Menyapa secara personal mereka yang saya sayangi saat tatap muka masih harus menunggu waktu.
Jakarta adalah meluangkan waktu, menciptakan kebahagiaan, melangkah, bukan sekadar menunggu dan mengodekannya.
Jakarta adalah macet yang smoga tidak lagi perlu saya keluhkan.
Tanah Abang - Serpong
30 Oktober 2013
Senin, 16 September 2013
Yang tidak kuberi judul
Aku memilihmu tapi ternyata kamu memilihkan hidup. Mungkin beginilah caranya takdir berjalan.
Rabu, 21 Agustus 2013
Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya: Narasi Panjang Sepanjang Judulnya
Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya yang selanjutnya akan saya singkat jadi SPTJ adalah Pemenang Unggulan DKJ 2012. Novel ini berisi surat-surat seorang perempuan tentang perasaannya kepada seorang lelaki.
Jika saya sebagai penulis, saya akan bilang novel ini adalah novel yang aman. Jujur saja jika saya menulis saya selalu kesulitan tiap kali harus membuat percakapan yang luwes.
Dan saya melihat novel ini pun mengalami masalah demikian. Penulis sering kali kesulitan membuat percakapan yang luwes dan di novel ini jarang sekali ditemukan percakapan. Sekalinya ada percakapan pun diungkapkan dari si narator, bukan kutipan langsung. Meski begitu, si penulis sangat rinci menuliskan perasaannya, kemahiran yang biasanya memang lebih dimiliki penulis perempuan dibandingkan penulis laki-laki.
Masih jika saya penulis, tema novel ini sungguh sederhana, bahkan seorang teman dekat sangat menyesal ia tidak menyelesaikan tulisannya yang sialnya mirip dengan novel ini. Tentang sesuatu yang tidak tersampaikan. Tentang sesuatu yang jadi buah pikir entah telah berapa lama.
Nah sekarang sebagai pembaca, sungguh saya merasa perjalanan ini sangatlah panjang. Perasaan saya membaca novel ini mirip dengan perasaan saya saat membaca Amba. Amba jadi fantastis dengan resensinya dari GM, dan SPTJ dengan labelnya dari DKJ. Saya kira siapa yang tidak berekspetasi pada unggulan DKJ setelah Ayu Utami dengan Saman jadi pemenang. Meskipun bagi saya selanjutnya masih belum ada yang menyaingi Saman, semisal Hubbu yang kemenangannya jadi kontroversi atau Tanah Tabu yang juga tidak benar-benar meledak.
Untungnya SPTJ tidak seruwet Amba yang memasukkan banyak tokoh, jika ya novel ini benar-benar sepanjang judulnya.
Novel ini berisi surat-surat panjang tokohnya. Konsep surat kadang menarik, kadang tidak, dan dalam novel ini segalanya diungkap dengan begitu detail sehingga bagi saya, seolah narator keasyikan cerita dan ia lupa bahwa ia punya pendengar yang mungkin sekali jadi bosan dibuatnya.
Tanggal surat memang berurutan, berurutan berdasarkan keinginan si tokoh, lalu ia bilang hanya akan menulis sebulan sekali, lalu kembali semaunya. Namun, isinya acak, sesemrawut isi hati si tokoh. Ia maju mundur sesukanya, perasaan perempuan inilah yang menjadi benang merah. Tanggal dan urutan surat hanya jadi pertanda sudah sejauh mana ia menulis bagi saya. Hingga tiga perempat buku ini saya masih tidak sampai pada klimaks, padahal si tokoh sudah mengalami sakit parah seperti yang dia ungkap.
Bagi saya inilah kekurangan dari konsep surat. Dengan model surat yang utuh, pengenalan-klimaks-antiklimaks ada dalam tiap suratnya. Hasilnya pembaca diajak naik turun tanpa henti, dan dalam novel ini si narator menulis dengan cara yang sama berulang kali. Bukan pula jadi teror, perasaan kosong perempuan ini pun hanya jadi numpang lewat padahal ia sudah mengungkapkannya dengan sangat rinci.
Bahkan saat ia ketakutan akan kematian yang ia gambarkan dengan segitunya pun masih sulit menggugah saya. Padahal, di awal buku, si kurir yang merasa perlu untuk menyampaikan surat ini sudah memberi bocoran mengapa surat-surat panjang ini harus disampaikan.
Pada akhirnya saya merekomendasikan buku ini untuk mereka yang tidak bisa move on atau mereka yang tidak pernah bisa mengungkapkan perasaan. Percayalah bahwa perasaan yang selesai adalah perasaan yang sampai dan mampu diungkapkan.
Rabu, 14 Agustus 2013
Fatwamu
Katamu kamu ingin melihat danau yang tenang di tengah kota. Bagiku katamu adalah fatwa, taklagi kuingat bahwa ini tengah malam. Aku ingin berada dii sebuah danau tepat di tengah kota. Hanya untuk senyum di wajahmu.
Bertahun-tahun ini aku tidak lagi pernah bertanya kita ini apa. Tahun-tahun yang lewat kubiarkan jadi ingatan. Kau berganti-ganti perempuan dan aku tetap menjdi perempuan yang sendiri.
Sendiri ini jelas konotasi. Sejauh yang aku ingat aku tidak pernah benar-benar sendirian. Selalu ada banyak orang di sekitar. Mereka selalu ada dan kamu masih selalu wara-wiri di hatiku.
Katamu adalah fatwa bagiku.
Serupa makanan yang katanya tidak berlabel halal dan takakan mampu aku cerna tanpa izinmu.
Kita telah lama terpisah. Surat elektronik tidak lagi pernah sampai. Aku ingin meneriakimu betapa aku rindu kamu. Akan tetapi, aku tercekat. Hingga pertemuan pertama kita setelah sekian tahun aku hanya mampu menitikan air mata.
Seharusnya pertemuan kita jadi dramatis. Harusnya aku pura-pura tegar menemukanmu bersama perempuan lain. Perempuan yang ingin kamu nikahi. Sayangnya itu tidak terjadi.
Aku hanya menemukan matamu yang kuyu. Entah berapa ratus batang rokok di dalam asbak. Aku menemukan bibirmu menghitam sekelam matamu.
Aku takpernah punya jawaban untuk matamu yang redup. Mungkin itu pula penyebab hubungan kita takpernah ada kemajuan. Meskipun begitu, aku ingin sekali berlaku yang tepat, berlaku yang kau inginkan. Hingga perempuan itu datang dan aku kembali tidak terlihat.
***
Siapa bisa mengira aku kembali kehilangan jejakmu. Kali ini aku lelah mencari, hanya saja aku masih menunggu.
Siapa yang meramalkan bahwa suatu saat kamu dan aku menjadi kita, hanya saja aku masih mau mengamini.
Apakah mengamini pun harapan? Masihkah harapanmu seperti yang aku ingat? Tentang hidup yang jauh dari bising. Tentang hidup yang hanya penuh dengan tawa dan rak buku.
Aku kini bahkan tidak tahu lagi buku apa yang kamu sukai. Masihkah kamu suka puisi-puisi yang tidak pernah aku mengerti?
Aku memejam mata. Berdoa. Smoga matamu hal yang pertama aku lihat pagi nanti.
***
Kamu datang, bola matamu jadi hal pertama yang aku lihat. Kali ini pun mungkin hanya sebentar. Kamu tidak berhenti bicara tentang danau yang hadir di mimpimu. Tentang danau yang luas di tengah kota. Aku hanya terdiam.
Entah mengapa mataku panas. Kakiku bergerak hebat. Aku tahu aku lelah. Aku tahu aku taklagi ingin mendengar tiap katamu yang jadi fatwa bagiku.
Aku tahu bahwa aku taklagi ingin mengaminimu bahwa danau di kota ini telah lama hilang.
Aku tahu bahwa aku sudah bosan mengamini tiap rangkai katamu. Tiap ulahmu. Dan betapa aku menyadari kamu tuan tidak diuntung.
Aku tahu bahwa kali ini aku yang akan meninggalkanmu.
Aku tidak pernah ingin melihat danau di tengah kota.
Serpong, 14 Agustus 2013
Senin, 05 Agustus 2013
Tanah Abang, Tempat Sakralnya Shaum Habis Sudah
Untuk kalian ketahui bahwa saya menulis ini dengan segala gemuruh di dada. Bagaimana tidak, Stasiun Tanah Abang, pintu saya menuju Jakarta di hari-hari Ramadan dan mendekati Idul Fitri adalah neraka, cobaan terbesar yang harus saya hadapi selama sehari penuh.
Saya ingat di Sabtu dan Minggu sebelum masuk Ramadan Stasiun Tanah Abang penuhnya minta ampun. Ibu-ibu bar-bar yang ga punya aturan duduk di mana-mana mereka mau dan itu ternyata berlangsung sebulan penuh.
Lalu hari ini saya memuncak, hari ini adalah H-3 atau H-4 Lebaran dan kalian tahu petugas sampai harus menutup pintu masuk ke stasiun.
Di luar ibu-ibu ini menunggu sambil makan bakso dan menyeruput es kelapa.
Di dalam mereka duduk di mana saja, meludah di mana saja.
Saya jadi makin geram, mereka yang pulang naik kereta sangat ingin di mengerti bahwa mereka pulang berbelanja.
Padahal, puasa pun tidak. Mereka begitu mengharapkan duduk di dalam kereta.
Padahal, sedari pagi mereka berkeliling Pasar Tanah Abang.
Saya bukan habis belanja, saya mau pulang setelah macul di hari-hari yang seharusnya cuti bersama. Saya tidak minta di mengerti, saya hanya meminta bahwa kita sama belajar menghargai.
Bahwa mereka makan dan minum itu urusan mereka. Akan tetapi, mereka bisa kan buang sampah di tempatnya, begitu juga dengan meludah di tempat sampah.
Bahwa mereka mau ngobrol hingga sampai di tujuan adalah urusan mereka. Akan tetapi, mengobrol dengan volume wajar akan mengurangi bising yang sudah maksimal.
Bahwa kita sama ingin duduk dan saat saya dapat duduk dan anda tidak itu adalah ketidakberuntungan anda yang tidak perlu anda bagi dengan saya.
Demikian curahan hati seseorang yang tinggal di kampung dan harus urbanisasi tiap hari demi sebongkah berlian.
Tanah Abang - Serpong, 5 Juli 2013.