"satu-satunya yang paling berharga dalam hidup adalah ketidakpastian dalam hidup (Kenko, Essays on Idleness)."
Jumat, 04 Juli 2014
Seminggu Menerjang Jakarta Jilid II
Kamis, 26 Juni 2014
Saat Tanggal Bertemu Angka
Tahun ini jangan doakan saya panjang umur.
Entah sejak kapan saya tidak ingin berumur panjang tanpa manfaat yang jelas. Hari ini 26 Juni 2014 saya genap 26 tahun dan belum banyak manfaat saya bagi dunia. Jadi apalah guna umur panjang tanpa ada yang bisa saya wariskan.
Tahun ini hingga Juni tahun depan saya hanya berharap lebih berbahagia. Saya berhak berbahagia dan kewajiban saya pula untuk mewujudkannya.
Pada tanggal ini seperti biasa enam bulan pertama di tahun ini hampir selesai. Tepat usia 26 tahun ini saya memutuskan untuk berpindah. Menerjang Jakarta takakan sama lagi.
Tahun ini saya memilih berbahagia, dengan cara yang saya putuskan sendiri. Meski saya tidak tahu ada apa saja di depan sana.
Kata seorang teman, "Melangkah ke depan."
Di depan sana entah ada apa, namun apa pun itu bukankah tidak ada pilihan lain selain tetap melangkah?
Selamat ulang tahun untuk saya. Terima kasih Tuhan masih terberi hingga hari ini.
Sabtu, 07 Juni 2014
Tentang Juni
Senin, 19 Mei 2014
Tentang Dilan dan Cinta yang (Seharusnya) Tidak Membosankan
Mungkin cinta adalah ramalan-ramalan konyol. Seperti yang dibuat oleh Dilan untuk Milea.
Mungkin cinta harusnya seperti Dilan pada Milea, spesial dan tidak pernah membosankan. Bukan seperti kalimat-kalimat yang diulang Beni di setiap teleponnya. Bukan pula pertanyaan klise Nandan.
Mungkin cinta adalah pembuktian bukan hanya kata-kata seperti bagaimana Dilan membuat Milea, "selalu senang jika bertemu dengannya dan selalu nyaman jika di dekatnya dan kurindu jika jauh."
Mungkin cinta harusnya seperti Dilan pada Milea, manis. Pun tiap coklat yang dikirim dari tiap orang yang berbeda. Tanpa kata dan tanpa isyarat. Mengejutkan dan lagi-lagi tidak membosankan.
Mungkin cinta seperi TTS yang diisi Dilan untuk Milea, sederhana namun penuh usaha dan tidak ingin membebani. Bukan hanya boneka besar yang diberi Nandan, seperti siapa pun bisa memberi jika punya uang.
Mungkin cinta juga seabsurd tukang pijit yang dibawa oleh Dilan untuk Milea agar membuatnya lebih baik.
Mungkin cinta harusnya tulus, tapi tidak diungkapkan. Tidak seperti bagaimana Kang Adi yang mengatakan bahwa ia tulus dan justru membuatnya kelihatan tidak tulus.
Mungkin cinta sesederhana "mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kamu ga akan denger."
Mungkin cinta semanis "tidak membiarkan rindu hadir pada pasanganmu, karena hal itu berat dan mungkin tidak mampu ditanggung."
Mungkin cinta seindah ucapan terima kasih pada ibu pasanganmu sebagai tanda syukur.
Mungkin cinta semanis hubungan mulus Dilan dan Milea. Yang mungkin bisa terjadi karena mereka fiksi yang sungguh menyenangkan. Yang mengajak senyum karena sederhana dan tulus.
Mungkin Dilan dan Milea selalu bisa mengajak ingatan pada manisnya cinta pertama.
Rabu, 14 Mei 2014
Saatnya Mengeluh
Ya saya akan mengeluh.
Saya akan mengeluh bahwa saya lelah dengan hari-hari ini.
Lelah bahwa tidak ada yang lebih penting dari siapa cawapres Jokowi dan Prabowo. Saya lelah menyadari bahwa hidup saya berkutat pada hal-hal yang itu lagi. Saya bahkan hampir lupa, berita yang saya baca tadi sumbernya dari media mana?
Saya capek bagaimana tiap opini harus diseragamkan. Saya lelah bahwa kini segala hujatan dan berita buruk tidak lagi bisa dicegah.
Kelak kita mungkin akan lebih menerima dengan mudah saat berita buruk yang kita dengar. Kelak "ah masa sih?" Mungkin adalah tentang berita bahagia yang amat jarang kita dengar.
Kelak saya mungkin taklagi mampu mengeluh. Kelak mungkin awan yang menggumpal taklagi memikat manusia.
Minggu, 13 April 2014
3.
Kita mungkin memang terlalu takut menghadapi hidup. Atau setidaknya aku mungkin sudah kaku menghadapi kenyataan.
Di sana aku bisa mendengar suara ibuku mengatakan begitu banyak hal yang hanya bisa kuamini. Di sini aku berdiam sambil berpikir ulang atas tiap rangkai katanya.
Ikhlas mungkin selalu menjadi pembelajaran yang takkunjung usai. Seperti tiap kata rindu yang tidak mampu tergenapi.
Malam kian larut dan gelap kian pekat. Meski begitu, siapa yang peduli pada hari saat segala yang kamu dengar masih sama ributnya.
Lalu tiap rangkai katamu berputar: "Dan di situ, kau buat aku terus terjaga. Sedang aku terus ingin kau terjaga."
Jumat, 11 April 2014
2.
kamu main petak-umpet. bersembunyi di balik lemari. lari-lari untuk tidak ditemukan. lalu aku pergi. berhenti mencarimu dan kamu malah berada dalam kegelapan yang tidak pernah kamu sukai.
kita pernah sama belajar saling menyayangi. kamu selalu bilang bahwa kamu suka diajari menyayangiku perlahan. sayangnya, kamu pula yang berteriak bahwa "melupakanmu ternyata jauh lebih pelan dari belajar menyayangimu."