penat dengan waktu takjauh beda dengan luka yang takberbekas
tiba-tiba yang tiba-tiba sekali dalam ketiba-tibaan
membawaku menjadi asing yang terasing tetapi bukan diasingkan
ada ngiang dalam riang dan mungkin akan jadi keriangan
"satu-satunya yang paling berharga dalam hidup adalah ketidakpastian dalam hidup (Kenko, Essays on Idleness)."
Selasa, 27 Desember 2011
Rabu, 14 Desember 2011
""
Hanya mengutip saja
“Nasib adalah kesunyian masing-masing”
Supaya saya taklupa bahwa hanya kesendirian yang kekal
Rabu, 30 November 2011
30 November 2011
Ini hari terakhir di bulan November. Pagi ini akan jadi pagi yang biasa jika takada gemericik hujan pagi tadi.
November ini ditutup dengan rinai hujan kala pagi. Saya selalu suka hujan hingga hari ini saya harus berpikir keras bagaimana caranya memulai hari ini dengan hujan yang menyejukkan.
Dulu, saya akan memilih untuk menarik kembali selimut. Bangun siang lalu melanjutkannya dengan secangkir kopi dan bacaan yang romantis pilihan saya sendiri.
Hari ini, saya menikmati langit yang mendung dengan rasa yang begitu dekat. Gedung pencakar langit itu hampir sampai ke langit dan saya berada di antaranya.
Hujan ini masih berasa romantis meski tanpa segelas kopi dan bacaan yang juga romantis.
Hujan ini masih romantis dengan berita dan derai tawa di dalam ruangan ini. Dengan donat yang super manis.
Dan ternyata syukur itu masih bisa diungkapkan meski hujan membuat tanah basah menumpang di alas kaki.
Kamis, 24 November 2011
23 November 2011
Ini kisah kebahagian dalam ketidaksempurnaan.
Mungkin kalian pernah melihatnya di stasiun Tanah Abang. Mereka keluarga yang kurang beruntung, tidak benar-benar mampu melihat indahnya dunia.
Kemarin hari yang biasa, seperti biasa saya pulang dan pergi menumpang kereta. Jadi tidak biasa ketika seorang lelaki dengan kekurangnnya yang biasa saya lihat menjual kemplang ternyata membawa keluarganya untuk mengamen pada hari itu.
Mereka keluarga yang lengkap, atau setidaknya sesuai dengan program KB. Suami-istri dengan sepasang anak.Saya masih melihat bagaimana anak perempuan kecil itu membawa ibunya duduk sambil menunggu kereta datang.
saya juga masih melihat bagaimana ia mengarahkan tongkat ayahnya agar sang ayah bisa berjalan lurus. Saya bahkan masih bisa melihat ketika sang ayah mencium sayang anak lelaki dalam gendongannya.
Suami-istri ini sama-sama memiliki keterbatasan. Anak mereka yang pertama seorang perempuan mungkin lebih beruntung. Ia menggunakan kaca mata yang begitu tebal namun nampaknya cukup untuk melihat indahnya dunia.
Lalu seorang anak lelaki dalam gendongan. Mungkin dia bahkan belum sampai tiga tahun, ia harus turut dalam padatnya kereta ekonomi bersama ibunya yang menyanyi sepanjang perjalanan kereta api demi sesuap nasi. Bersama ayahnya yang membawa bekas bungkus permen untuk mengumpulkan recehan.
Mungkin suatu hari anak lelaki itu yang akan bercerita kepada ibu dan ayahnya bagaimana indahnya dunia ataukah justru berkisah tentang sulitnya dunia.Hari ini ia yang berada dalam gendongan ayahnya, mungkinkah suatu hari ia yang akan menggendong sayang ayahnya?
Mungkin kalian pernah melihatnya di stasiun Tanah Abang. Mereka keluarga yang kurang beruntung, tidak benar-benar mampu melihat indahnya dunia.
Kemarin hari yang biasa, seperti biasa saya pulang dan pergi menumpang kereta. Jadi tidak biasa ketika seorang lelaki dengan kekurangnnya yang biasa saya lihat menjual kemplang ternyata membawa keluarganya untuk mengamen pada hari itu.
Mereka keluarga yang lengkap, atau setidaknya sesuai dengan program KB. Suami-istri dengan sepasang anak.Saya masih melihat bagaimana anak perempuan kecil itu membawa ibunya duduk sambil menunggu kereta datang.
saya juga masih melihat bagaimana ia mengarahkan tongkat ayahnya agar sang ayah bisa berjalan lurus. Saya bahkan masih bisa melihat ketika sang ayah mencium sayang anak lelaki dalam gendongannya.
Suami-istri ini sama-sama memiliki keterbatasan. Anak mereka yang pertama seorang perempuan mungkin lebih beruntung. Ia menggunakan kaca mata yang begitu tebal namun nampaknya cukup untuk melihat indahnya dunia.
Lalu seorang anak lelaki dalam gendongan. Mungkin dia bahkan belum sampai tiga tahun, ia harus turut dalam padatnya kereta ekonomi bersama ibunya yang menyanyi sepanjang perjalanan kereta api demi sesuap nasi. Bersama ayahnya yang membawa bekas bungkus permen untuk mengumpulkan recehan.
Mungkin suatu hari anak lelaki itu yang akan bercerita kepada ibu dan ayahnya bagaimana indahnya dunia ataukah justru berkisah tentang sulitnya dunia.Hari ini ia yang berada dalam gendongan ayahnya, mungkinkah suatu hari ia yang akan menggendong sayang ayahnya?
Senin, 21 November 2011
Adventures of Tintin
Tintin, konon ini animasi tapi tonton saja sendiri ini tampak nyata. Ada bagian ketika tangan Tintin memperlihatkan tangannya dan kita akan di kasih liat betapa detail itu rambut-rambut halus di tangan Tintin.
Tontonlah ini menyenangkan dan menghibur.
Senin, 14 November 2011
Tidak Pernah Sampai ke Bumi
Dan hanya batu yang konsisten dengan segalanya. Tetapi, batu pun akan bolong jika terus ditetesi air. Benarkah ada yang konsisten dalam hidup. Karena jika benar begitu harusnya Adam dan Hawa takakan pernah sampai di bumi. Mungkin kita yang konon adalah anak dan cucu Adam ini tetap berada di surgaloka. Karena jika Hawa konsisten untuk tidak pernah menginginkan buah quldi mungkin mereka dan kita semua akan tetap berada di nirwana.
Apakah rasa pun juga seperti Adam dan Hawa yang tidak konsisten? Karena ternyata dalam sepersekian detik rasa bisa saja berubah. Rasa seperti juga udara yang akan berubah kapan saja tanpa tedeng aling-aling. Namun, apakah ia rasa harus berubah dengan cara menyakiti karena ketidakkonsisitenannya? Bukankah rasa yang tadinya diagung-agungkan itu begitu menggebu-gebu dan dalam tempat yang begitu istimewa di dalam hati sang pemiliknya. Mengapa pula pada akhirnya harus berubah dengan sangat cepat. Seperti kilat yang datang kala hujan, hanya segaris sinar yang cepat lalu hilang lagi tanpa kita tahu kapan kembali.
Akan tetapi, kita juga tahu mungkin petir akan kembali pada hujan yang akan datang. Namun, rasa apakah ia akan kembali pada perjumpaan berikutnya? Apakah rasa akan datang pada senyum yang selanjutnya, begitu manis ketika diperlihatkan? Atau ternyata semua hanya jadi rekayasa yang takpernah ada. Hanya rekaya yang konsistenannya akan dijaga oleh sang pembuat, yang bergantung pula padanya akan lama atau tidak untuk melihat apakah ia ulung dalam mereka ataukah ia justru terlalu mudah dibaca.
Segala yang mendesak dan meringsek pada sesak akan meninggalkan bekas. Seperti batu yang jadi bolong. Seperti anak cucu adam yang kelak akan kembali ke surga. Seperti cuaca yang akan kembali cerah. Pada suatu hari baik nanti.
Langganan:
Postingan (Atom)



