Sabtu, 08 Juni 2013

siangnaas



Siang terlalu naas untuk kembali disalahkan.
Kota ini sudah terlalu bising dengan keluhan.
Udara di sini sudah terlalu sesak untuk diperebutkan.
Apakah kita masih harus terus mereguk sakit di tiap titik?
Kota ini tidak pernah titik.
Kota ini tidak bosan terjaga.
Kota ini penuh dengan daya hidup yang mematikan.
Sayangnya semua orang minta diacuhkan di kota ini.
Setiap orang meminta disapa di kota ini.
Sementara aku ingin berlari dari kota ini dan aku justru terikat.
Ia mencengkramku dengan terlalu keras.
Memanggangku di dalam kotak panas dan tepat di jantung kota.
Dengan mata tua seorang ibu,
dengan rambut putih seorang ayah,
atau justru dengan tiap senyum yang ditawarkan.
Ya!
Aku hanya masih ingin jadi burung yang bebas mengepakkan sayap.
Aku hanya masih ingin mengepak segala dalam sebuah ransel.
Aku masih ingin menjejakan kaki di kota asing.
Aku hanya masih ingin dan entah mengapa segalanya hanya ingin.
Hingga saat terjaga aku masih di kota ini.
Siang terlalu naas untuk kembali disalahkan.
Saat pohon yang tumbang tercerabut dari akarnya.
Aku sudah lama tidak berakar.
Mengada justru karena ketiadaan.
Apakah kita masih harus terus mereguk sakit di tiap titik?
Ketika kota ini adalah tanah mereka yang tercerabut dari akarnya.
Kota ini membuat segala wajah jadi serupa.
Kota ini bikin semua mimpi jadi sama.
Kota ini merajut asa tapi melupakan makna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar