Rabu, 14 Agustus 2013

Fatwamu

Katamu kamu ingin melihat danau yang tenang di tengah kota. Bagiku katamu adalah fatwa, taklagi kuingat bahwa ini tengah malam. Aku ingin berada dii sebuah danau tepat di tengah kota. Hanya untuk senyum di wajahmu.

Bertahun-tahun ini aku tidak lagi pernah bertanya kita ini apa. Tahun-tahun yang lewat kubiarkan jadi ingatan. Kau berganti-ganti perempuan dan aku tetap menjdi perempuan yang sendiri.

Sendiri ini jelas konotasi. Sejauh yang aku ingat aku tidak pernah benar-benar sendirian. Selalu ada banyak orang di sekitar. Mereka selalu ada dan kamu masih selalu wara-wiri di hatiku.

Katamu adalah fatwa bagiku.

Serupa makanan yang katanya tidak berlabel halal dan takakan mampu aku cerna tanpa izinmu.

Kita telah lama terpisah. Surat elektronik tidak lagi pernah sampai. Aku ingin meneriakimu betapa aku rindu kamu. Akan tetapi, aku tercekat. Hingga pertemuan pertama kita setelah sekian tahun aku hanya mampu menitikan air mata.

Seharusnya pertemuan kita jadi dramatis. Harusnya aku pura-pura tegar menemukanmu bersama perempuan lain. Perempuan yang ingin kamu nikahi. Sayangnya itu tidak terjadi.

Aku hanya menemukan matamu yang kuyu. Entah berapa ratus batang rokok di dalam asbak. Aku menemukan bibirmu menghitam sekelam matamu.

Aku takpernah punya jawaban untuk matamu yang redup. Mungkin itu pula penyebab hubungan kita takpernah ada kemajuan. Meskipun begitu, aku ingin sekali berlaku yang tepat, berlaku yang kau inginkan. Hingga perempuan itu datang dan aku kembali tidak terlihat.

***

Siapa bisa mengira aku kembali kehilangan jejakmu. Kali ini aku lelah mencari, hanya saja aku masih menunggu.

Siapa yang meramalkan bahwa suatu saat kamu dan aku menjadi kita, hanya saja aku masih mau mengamini.

Apakah mengamini pun harapan? Masihkah harapanmu seperti yang aku ingat? Tentang hidup yang jauh dari bising. Tentang hidup yang hanya penuh dengan tawa dan rak buku.

Aku kini bahkan tidak tahu lagi buku apa yang kamu sukai. Masihkah kamu suka puisi-puisi yang tidak pernah aku mengerti?

Aku memejam mata. Berdoa. Smoga matamu hal yang pertama aku lihat pagi nanti.

***

Kamu datang, bola matamu jadi hal pertama yang aku lihat. Kali ini pun mungkin hanya sebentar. Kamu tidak berhenti bicara tentang danau yang hadir di mimpimu. Tentang danau yang luas di tengah kota. Aku hanya terdiam.

Entah mengapa mataku panas. Kakiku bergerak hebat. Aku tahu aku lelah. Aku tahu aku taklagi ingin mendengar tiap katamu yang jadi fatwa bagiku.

Aku tahu bahwa aku taklagi ingin mengaminimu bahwa danau di kota ini telah lama hilang.

Aku tahu bahwa aku sudah bosan mengamini tiap rangkai katamu. Tiap ulahmu. Dan betapa aku menyadari kamu tuan tidak diuntung.

Aku tahu bahwa kali ini aku yang akan meninggalkanmu.

Aku tidak pernah ingin melihat danau di tengah kota.

Serpong, 14 Agustus 2013

1 komentar: