Selasa, 14 Januari 2014

Maukah Kamu Berjanji?

Katamu, kamu lupa bagaimana cara merangkai kata-kata indah. Smoga kamu tidak lupa bagaimana mengakhiri kisah ini dengan indah.

Langit sudah begitu pekat. Beberapa waktu ini kamu jadi begitu takut dengan malam. Kamu tidak lagi menikmati bintang apalagi bulan, meski kadang kamu ingin melihat bulan yang jadi dua, seperti yang dilihat Aomame juga Tengo.

Berapa malam ini kamu membenamkan diri dengan buku, dengan lagu, dengan film. Kamu berharap lebih cepat terpejam, nyatanya, kamu mungkin mampu melihat langit berubah warna.

Ternyata kalian hanya dua orang yang ingin melupakan rasa sakit. Ternyata kalian hanya dua orang yang ingin belajar mencintai orang lain. Ternyata kalian bukan Tengo dan Aomame yang ditakdirkan bersama.

***

Kalian bertemu di warung kopi, yang mbaknya harus kaget mendengar pesanan dua single espresso untuk seorang perempuan. Kamu memang perempuan, yang suka sekali meminum kepahitan, yang smoga meluruhkan pahit pada hidupmu.

Ini warung kopi tempat kalian pertama berjumpa, sebagai lelaki ternyata kamu justru menyeruput cokelat panas, jauh berbeda dari perempuan yang justru memesan dua single espresso sekaligus. Kamu butuh kehangatan yang menyeruak hingga ke dalam hatimu.

Di matanya kamu menemukan kesedihan yang serupa dengan matamu. Kamu mulai menerka, kamu ingin mengajaknya duduk bersama, sekadar berbagi keluh yang mungkin hanya mampu diungkapkan dengan air mata.

***

Kamu mendekatinya pertama kali bukan karena kamu seorang lelaki yang merasa "gentleman" kamu hanya tahu kamu harus berbincang dengannya. Kamu tahu sudah waktunya kamu belajar "memulai".

Kamu lihat dua cangkir single espresso di meja dan kekejutan pada wajahnya. Namun kamu tahu bahwa kamu tidak bisa mundur lagi walau tidak ada kata yang siap kamu ungkapkan.

Tiba-tiba ia mendekatimu. Ia memiliki mata yang hangat dan entah mengapa di matanya kamu melihat matamu yang belum reda bengkaknya. Karena tangis semalam.

Kalian sudah berhadapan. Ternyata kalian dua orang yang sama patah hati. Di dalam hati kalian sama berbisik "pantas saja mata kita sama." Tanpa ada prolog yang pasti kalian saling mengisi. Tidak ada komitmen hanya kalian tahu selama mata itu masih sama redup, mungkin "kita" akan terus ada.

Sejak itu kamu tidak lagi menyeruput cokelat panas, kamu memesannya tapi takpernah tersentuh. Cokelat panas jadi gelas keempat, di antara tiga kelas kopi. Ia jadi orang ketiga di antara dua orang.

***
Mungkin kalian hanya merasa perlu untuk bercakap-cakap. Sama-sama menunggu senja. Kenyataan bahwa kalian punya banyak kesamaan sebenarnya tidak pernah benar-benar pedulikan. Kalian sama-sama jatuh cinta pada kata-kata indah. Kalian sama-sama tenang dengan aroma kopi. Kalian sama paradoksnya, berada dikeramaian dan tetap kesepian.

Kamu tahu bahwa kamu enggan mengajaknya bertemu kembali, apalagi saat matanya begitu bengkak. Kamu bilang kamu merasa dipersalahkan dengan pandangan sekeliling, berada bersama perempuan dengan mata bengkak dan jejak air mata.

Tidak pernah ada kata, "sampai ketemu lagi." Tahu-tahu dia selalu ada di meja yang sama, meja favoritmu. Meja pertama saat ia menghampirimu. Kadang ia terlihat begitu kikuk saat kami bersama. Entah apa yang membuatnya, maksudku, membuat kami tetap duduk bersama meneguk kopi.

***
Dia lelaki yang baik, kamu tahu dia tidak pernah berkata yang menyakitinya meski banyak pandangan mempersalahkannya. Kadang, ia tidak berkata apa-apa tapi memesankan cokelat panas selain espresso yang belum henti kamu minum. Kamu tahu dari diamnya dia memberi perhatian yang bisa ia berikan.

Dia mungkin lebih tersiksa, tidak pernah mampu bermata bengkak karena air mata harus ia tahan. Kadang kami ingin memeluknya, tapi kami juga tahu entah setelah seruput kopi yang mana jadi hari terakhir memesan kopi bersama.

***
"Maukah kamu berjanji, di pertemuan kita yang terakhir, saat itu kamu akan bercerita hingga takada air mata yang tertahan di pelupuk matamu. Maukah kamu berjanji, di pertemuan terakhir kamu berhenti memesan cokelat panas yang tidak pernah kuminum. Maukah kamu berjanji, di pertemuan kita yang terakhir kita akan tertawa dan berbahagia. Maukah kamu berjani? Karena aku pun sedang berjanji pada diriku."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar