Minggu, 13 April 2014

3.

Kita mungkin memang terlalu takut menghadapi hidup. Atau setidaknya aku mungkin sudah kaku menghadapi kenyataan.

Di sana aku bisa mendengar suara ibuku mengatakan begitu banyak hal yang hanya bisa kuamini. Di sini aku berdiam sambil berpikir ulang atas tiap rangkai katanya.

Ikhlas mungkin selalu menjadi pembelajaran yang takkunjung usai. Seperti tiap kata rindu yang tidak mampu tergenapi.

Malam kian larut dan gelap kian pekat. Meski begitu, siapa yang peduli pada hari saat segala yang kamu dengar masih sama ributnya.

Lalu tiap rangkai katamu berputar: "Dan di situ, kau buat aku terus terjaga. Sedang aku terus ingin kau terjaga."

Jumat, 11 April 2014

2.

kamu justru tidak memilih ketika waktu membuatmu punya waktu di antara pilihan. kamu merengek mencari pilihan dan kamu justru lari saat ia datang. apalagi yang kamu cari?

kamu main petak-umpet. bersembunyi di balik lemari. lari-lari untuk tidak ditemukan. lalu aku pergi. berhenti mencarimu dan kamu malah berada dalam kegelapan yang tidak pernah kamu sukai.

kita pernah sama belajar saling menyayangi. kamu selalu bilang bahwa kamu suka diajari menyayangiku perlahan. sayangnya, kamu pula yang berteriak bahwa "melupakanmu ternyata jauh lebih pelan dari belajar menyayangimu."

manusia selalu takut menghadapi kenyataan. aku tahu kamu mampu bangun. katanya ini hanya masalah waktu dan seperti yang selalu kamu dengar, hidup adalah penantian yang tidak pernah usai.

Rabu, 02 April 2014

Musik Asyik Tanpa Suara Ciamik dalam Album Morning Sugar Ayushita



Bagi kalian yang akan membacanya judulnya pasti mikir ini ilmiah banget, ya ga? Padahal saya cuma akan cerita kesan saya setelah mendengar album "Morning Sugar" milik Ayushita.

Iya, Ayushita yang itu, yang sebelumnya gabung di BBB alias Bukan Bintang Biasa. 
Iya Ayushita yang itu, yang main FTV buatan Miles "Berkisar Merah" tapi gagal tomboy di "Me VS High Heels.

April 2013 dia mengeluarkan album barunya bertajuk "Morning Sugar" yang di dalamnya terdapat delapan lagu. Lalu bagiamana hasilnya? 

Saya awam soal musik, tapi musik seperti juga seni yang lain itu berawal dari subjektif dan bagi saya musik dalam album ini sungguh enak didengar. Sayangnya, bagi saya suara Ayushita biasa aja, bahkan untuk sesuatu yang sudah keluar dari dapur rekaman. 

Sungguh ini tidak buruk namun kurang syahdu, meski menyenangkan dan menenangkan. Suara Ayu bagi saya berasa tanpa tenaga dan datar. Tidak ada lonjakan suara dan kesan yang berarti dalam tiap lagunya. 

Pada lagu "Salah", Ayushita membuat rasa baru dalam "Salah" milik Potret. Sama menyenangkannya, seperti keceriaan yang bisa kita rasakan kala Melly Goeslow menyanyikannya, tapi yasudah selesai sampai di situ.

Sedangkan "Pada Tonight is Mine" musik yang enak itu malah seperti ada seseorang yang bergumam, artikulasi ga jelas (atau bahasa Inggris saya aja yang jelek?).

 Tapi yang paling bikin saya sakit hati adalah lagu "Di Dalam Rasa", lagu ini buatan Anda Perdana dan saya sungguh suka Anda. Lagu dengan lirik sekeren itu dinyanyikan dengan cara yang ah sudahlah, saya malah jadi keinget Sarita Fraya, kayaknya kalau dia yang nyanyikan lagu itu akan lebih hidup. 

Selain itu, ada Ayushita berduet dengan Anda Perdana dalam "Cerah Nanti", sungguh enak didengar berdua saat sore mendung tapi, suara Anda dan Ayu seperti tidak teraduk dengan baik yang membuat hati kita benar-benar menunggu cerah nanti sesegera mungkin.

Maaf atas kesotoyan saya,berikut daftar musisi bergabung dalam album ini yang akan membuat kalian tercengang. 

Album "Morning Sugar" didukung sederet pemusik belia berbakat seperti Ricky Surya Virgana (bass, gitar, glockenspliel, cello, electric piano), Ramondo Gascaro (keyboard, gitar, vibraphone, suara latar), John Navid (drums), Riza Arshad (akordeon), Indra Dauna (trumpet), Doni Yusran (keyboard, pianica), Saleh Husein (gitar), Harry Winanto (flute), Adink Permana (gitar elektrik), Aprimela Prawidyanti (Viola), Belanegara Abimanyu (perkusi), Tony Hade (trombone), Denny Yurika (violin), Panjita Krisna (violin) serta Karina dan Rebecca Theodora (suara latar).

1. Sehabis Hujan (Ramondo Gascaro)
2. Morning Sugar (Ricky Surya Virgana / Jim Powers)
3. Fufu-Fafa (Ricky Surya Virgana / Aprillia Apsari)
4. Cerah Nanti (Ricky Surya Virgana / Bin Harlan)
5. Salah (Mely Goeslaw)
6. tonight Is Mine (Ricky Surya Virginia / Jim Powers)
7. Didalam Rasa (Anda Perdana)

Bagi yang penasaran silakan Googling dan cari beberapa review lain yang lebih mumpuni. Meski begitu, saya merekomendasikan bagi kalian yang bosan mendengar musik lala yeye di tipi untuk mendengar musik-musik menyenangkan dalam lagu ini. 

Selamat berwisata telinga. 

Jumat, 28 Maret 2014

Kecewa Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana pasti sudah sering didengar. Ia jadi kalimat wajib untuk penghiburan selain juga kenyataannya memang sering kali begitu.

Namun, ternyata kecewa pun sama sederhananya. Seperti ketinggalan kereta yang ternyata kereta selanjutnya baru ada sejam kemudian. Seperti kekasih yang telat datang saat kamu merasa sudah dandan begitu cantik.

Sayangnya, kecewa yang sederhana pasti ga ingin orang untuk pertahankan seperti bahagia yang sederhana dan di situlah seninya. Ga semua orang bisa jadi Mario Teguh yang super. Akan tetapi, semua oranh pasti punya cara mengatasi kekecewaan.

Kecewa bukan seperti kebahagiaan yang dishare di jejaring sosial mana pun. Jadi ga usahlah kecewa saat kamu ga punya pacar, mungkin kamu aja yang lebay yang malah bikin laki-laki malah males lirik kamu.

Kamu mungkin bakal kecewa saat hidupmu ga semenarik hidup artis yanh kamu follow di instagram. Tapi masa iya sih hidupnya doi gitu terus? Dia cuma ga ngeshare saat doi kecewa dan mungkin hal itu lebih cocok untuk kamu "follow".

Mungkin kita cuma harus adil bahkan sejak dalam pikiran seperti kata Pram. Mungkin kamu hanya butuh lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mungkin kamu harus lebih banyak baca daripada melototin hapemu.
Mungkin kamu harus lebih menikmati kekecewaan kamu, seperti kamu menikmati kebahagiaanmu.

"Bukan ingat bagaimana cara kamu jatuh, tapi bagaimana kamu bangkit lagi."

Kamu boleh kecewa karena kereta penuh, kamu boleh kecewa karena kerjaan impianmu tidak kamu gapai. Kamu sangat boleh kecewa karena pacarmu tidak setampan Reza Rahadian.

Tapi, ternyata di dalam kereta kamu bertemu dengan ibu-ibu yang masih tertawa bersamamu saat kereta penuh bahkan penuh banget. Ternyata kerjaan impianmu akan membuat lupa diri dan mungkin lupa pada Tuhanmu. Iya, Reza Rahadian emang ganteng banget tapi dia ga suka cewek jadi kamu ga akan pernah iri sama perempuan lain yang mungkin akan menggandeng dia.

Kecewa itu sederhana, sesederhana senja yang batal karena hujan, tapi kamu tahu mungkin besok hari cerah dan kasih kamu jingga tanpa cela.

Selasa, 14 Januari 2014

1.

Di matamu memancarkan luka,
entah siapa yang menggoreskan.

Pada matamu ada bara api,
seperti terik yang kau terjang di tengah hari.

Apakah pundakmu masih menampung dunia? Yang beratnya menggunung bersama hari.

Masihkah kau tahan dengan segala desak? Meski, takada keluh dari mulut,
serta tangis pada matamu.

Kau belum mau goyah pun tergoyahkan.

Maukah Kamu Berjanji?

Katamu, kamu lupa bagaimana cara merangkai kata-kata indah. Smoga kamu tidak lupa bagaimana mengakhiri kisah ini dengan indah.

Langit sudah begitu pekat. Beberapa waktu ini kamu jadi begitu takut dengan malam. Kamu tidak lagi menikmati bintang apalagi bulan, meski kadang kamu ingin melihat bulan yang jadi dua, seperti yang dilihat Aomame juga Tengo.

Berapa malam ini kamu membenamkan diri dengan buku, dengan lagu, dengan film. Kamu berharap lebih cepat terpejam, nyatanya, kamu mungkin mampu melihat langit berubah warna.

Ternyata kalian hanya dua orang yang ingin melupakan rasa sakit. Ternyata kalian hanya dua orang yang ingin belajar mencintai orang lain. Ternyata kalian bukan Tengo dan Aomame yang ditakdirkan bersama.

***

Kalian bertemu di warung kopi, yang mbaknya harus kaget mendengar pesanan dua single espresso untuk seorang perempuan. Kamu memang perempuan, yang suka sekali meminum kepahitan, yang smoga meluruhkan pahit pada hidupmu.

Ini warung kopi tempat kalian pertama berjumpa, sebagai lelaki ternyata kamu justru menyeruput cokelat panas, jauh berbeda dari perempuan yang justru memesan dua single espresso sekaligus. Kamu butuh kehangatan yang menyeruak hingga ke dalam hatimu.

Di matanya kamu menemukan kesedihan yang serupa dengan matamu. Kamu mulai menerka, kamu ingin mengajaknya duduk bersama, sekadar berbagi keluh yang mungkin hanya mampu diungkapkan dengan air mata.

***

Kamu mendekatinya pertama kali bukan karena kamu seorang lelaki yang merasa "gentleman" kamu hanya tahu kamu harus berbincang dengannya. Kamu tahu sudah waktunya kamu belajar "memulai".

Kamu lihat dua cangkir single espresso di meja dan kekejutan pada wajahnya. Namun kamu tahu bahwa kamu tidak bisa mundur lagi walau tidak ada kata yang siap kamu ungkapkan.

Tiba-tiba ia mendekatimu. Ia memiliki mata yang hangat dan entah mengapa di matanya kamu melihat matamu yang belum reda bengkaknya. Karena tangis semalam.

Kalian sudah berhadapan. Ternyata kalian dua orang yang sama patah hati. Di dalam hati kalian sama berbisik "pantas saja mata kita sama." Tanpa ada prolog yang pasti kalian saling mengisi. Tidak ada komitmen hanya kalian tahu selama mata itu masih sama redup, mungkin "kita" akan terus ada.

Sejak itu kamu tidak lagi menyeruput cokelat panas, kamu memesannya tapi takpernah tersentuh. Cokelat panas jadi gelas keempat, di antara tiga kelas kopi. Ia jadi orang ketiga di antara dua orang.

***
Mungkin kalian hanya merasa perlu untuk bercakap-cakap. Sama-sama menunggu senja. Kenyataan bahwa kalian punya banyak kesamaan sebenarnya tidak pernah benar-benar pedulikan. Kalian sama-sama jatuh cinta pada kata-kata indah. Kalian sama-sama tenang dengan aroma kopi. Kalian sama paradoksnya, berada dikeramaian dan tetap kesepian.

Kamu tahu bahwa kamu enggan mengajaknya bertemu kembali, apalagi saat matanya begitu bengkak. Kamu bilang kamu merasa dipersalahkan dengan pandangan sekeliling, berada bersama perempuan dengan mata bengkak dan jejak air mata.

Tidak pernah ada kata, "sampai ketemu lagi." Tahu-tahu dia selalu ada di meja yang sama, meja favoritmu. Meja pertama saat ia menghampirimu. Kadang ia terlihat begitu kikuk saat kami bersama. Entah apa yang membuatnya, maksudku, membuat kami tetap duduk bersama meneguk kopi.

***
Dia lelaki yang baik, kamu tahu dia tidak pernah berkata yang menyakitinya meski banyak pandangan mempersalahkannya. Kadang, ia tidak berkata apa-apa tapi memesankan cokelat panas selain espresso yang belum henti kamu minum. Kamu tahu dari diamnya dia memberi perhatian yang bisa ia berikan.

Dia mungkin lebih tersiksa, tidak pernah mampu bermata bengkak karena air mata harus ia tahan. Kadang kami ingin memeluknya, tapi kami juga tahu entah setelah seruput kopi yang mana jadi hari terakhir memesan kopi bersama.

***
"Maukah kamu berjanji, di pertemuan kita yang terakhir, saat itu kamu akan bercerita hingga takada air mata yang tertahan di pelupuk matamu. Maukah kamu berjanji, di pertemuan terakhir kamu berhenti memesan cokelat panas yang tidak pernah kuminum. Maukah kamu berjanji, di pertemuan kita yang terakhir kita akan tertawa dan berbahagia. Maukah kamu berjani? Karena aku pun sedang berjanji pada diriku."